Harmoni Kehidupan

Karya : Jessica Ratri Yudhistira, Matematika 2018, Universitas Riau

Hai.,

Namaku Zakia. Kia adalah panggilanku. Aku ada seorang pianist. Ya.,.setidaknya dulu begitu. Aku punya cerita yang ingin ku lantunkan pada dunia. Tentang bagaimana aku dan impian ku hampir terbakar seperti debu.

****

            Aku adalah seorang mahasiswa jurusan musik. Spesialisasi ku sendiri adalah piano. Dari kecil aku sangat menyukai piano. Di rumah ku ada sebuah piano peninggalan kakek. Yap!.., Kakek ku adalah seorang pianist. Sebelum beliau meninggal, dia meminta ku agar memainkan lagu piano sebelum tidur. Entah kenapa itu menjadi kebiasaan ku sampai sekarang.

            Sebenarnya aku mendaftar disalah satu sekolah seni terbaik dunia Julliard Art and Music, namun sayang selain menyandang gelar sekolah seni terbaik, Juliard juga memiliki standar yang sangat tinggi untuk calon pelajar. Mungkin aku saja yang kurang berbakat. Dan disinilah aku, mahasiswa Jurusan Musik Universitas Riau. Selain kuliah aktivitas ku yang lain adalah les piano dan menjadi guru piano. Walaupun tahun ini aku tidak di terima oleh Julliard, aku yakin tempat ku berada disana. Setiap waktu ku aku habiskan dengan menikmati permainan piano ku.

            “KIAAAAAAAAA!!!!!” suara teriakan terdengar melengking di telinga ku.

            Lengkingan suara itu adalah milik teman ku, Yans. Yansita Putri nama lengkapnya. Dia adalah teman ku yang memiliki mimpi sangat tinggi di imajinasi nya, dia ingin memaikan musik yang dapat membuat koruptor bertekuk lutut dan mengakui kesalahannya. Ya.,mimpi yang aneh. Yans memiliki saudara kembar Hans. Hanzel Putra nama lengkap nya. Dia pacarku.

            “Ada apa Yans ?”

            “Hari ini kamu akan mengajar piano kan ? Aku ikut yaaa.”

            “Terserah mu saja.”

            Yans dan aku bersahabat sejak kami bertemu di PKKMB kampus. Aku merasa Yans dan aku entah kenapa memiliki ikatan yang cukup kuat. Aku bahkan tidak bisa marah dengan nya sebesar apapun kesalahannya. Seperti hari-hari sebelum nya. Hari ini aku sangat bahagia. Akan ada banyak anak-anak jalanan yang akan datang ke rumah, mereka datang untuk belajar piano. Aku senang bahwa antusiasme anak-anak sekitar rumah ku lebih meriah dari yang aku bayangkan. Pembelajaran piano di rumah ku berlangsung selama 2 jam dan aku tidak dibayar. Aku mengajar karena aku ingin mimpi ku dapat menjadi mimpi semua orang.

            Hari ini aku jalanin dengan bahagia seperti hari-hari sebelum nya. Malam ini aku akan memulai menghafal lagu  “Noturne , Op 9”, lagu ini adalah karya Frederic Chopin. Menceritakan tentang malam. Lagu yang sangat indah, karena malam ini begitu indah. Bagi yang bingung kenapa dihafal, seorang pianist harus bisa menghafal lagu yang akan dia mainkan. Gak kebayangkan, jika harus membaca buku notasi untuk lagi berdurasi lebih dari 30 menit. Karena sudah kebiasaan menghafal musik adalah hal yang paling kusuka. Aku terkadang menghafal sambil mendengar kan lagu hingga aku tertidur.

***

            Pagi ini adalah pagi yang indah seperti pagi-pagi sebelumnya. Entah kenapa setiap hari adalah hari yang indah ketika aku membuka mataku. Karena aku merasa hari ini aku bisa memainkan piano ku sampai akhirnya aku bisa tertidur dengan pulas. Sambil berjalan menuju kampus aku selalu menyenandungkan lagu-lagu yang malam sebelum nya kudengarkan, sampai akhirnya...

            “BRAAAAKKK!!!!”

            Suara itu yang terkahir kali ku dengar. Semua gelap. ”Apa yang terjadi?” , hanya itu yang dapat kupikirkan. Setelah itu, aku bermimpi. Tidak, lebih tepat nya aku melihat masa depan ku. Piano yang kusukai tiba-tiba menghilang, menjauh. Semua mata yang kulihat seolah-olah berkata, bahwa piano ku bukan milikku atau bahkan dari awal memang tidak akan pernah menjadi milliku.

            Aku membuka mataku. Yang pertama kali ku rasakan adalah suasana yang aneh. Tidak ada suara papa yang senang atau tangisan bahagia mama. Tidak seperti biasa nya, mama dan papa adalah orang yang paling lebay saat aku kenapa-kenapa. Mereka hanya diam. Tidak berkata apapun, aku melihat mata mereka. Mata yang sama yang menatap ku saat aku bermimpi. Tanpa sadar aku menetes kan air mata ku.

            Ada yang aneh. Tangan ku, aku tidak bisa merasakan tangan ku. Aku panik , “ada apa dengan tangan ku” , itu yang terlintas di kepala ku. Dokter Adi dan beberapa dokter lain masuk. Aku benar-benar tidak bisa menahan tangisku. Aku seperti berteriak tapi tidak ada yang mendengar. Dokter Adi bilang aku ditabrak sebuah mobil yang menerobos lampu merah saat aku menyebrang jalan, menyebabkan cedera pada tangan dan kaki ku.

            Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Tidak, lebih tepat nya aku tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Dunia ku seakan-akan runtuh. ”Seorang Pianist dengan tangan yang cedera?”.  Tidak pernah sekalipun ku bayangkan, kalau kejadian mengerikan ini menimpa ku. Dokter Adi bilang cedera tangan ku disebut distonik tremor, keadaan dimana tangan bisa bergetar dengan sendiri nya tanpa aku sadari, sebenarnya bukan cedera yang begitu parah.Tapi jika kondisi itu terjadi saat aku sedang bermain piano, tanganku bisa jadi menjadi kaku dan lumpuh selamanya. Sedangkan kaki ku, aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada jalan-jalan yang sering ku lalui saat akan kekampus. Karena aku benar-benar sudah tidak bisa berjalan lagi. Saat kecelakaan tulang belakang ku mengalami sedikit cedera yang menyebab kan aku tidak bisa berjalan lagi.

            Sekali mendayung 2 3 pulau terlewati. Percayalah ungkapan itu sangat cocok untukku. Tapi aku bukan perahu nya. Anggap saja aku adalah ikan di dalam perahu yang bocor. Ketika sampai di pulau itu, aku sudah menjadi ikan yang sudah tidak bisa bernafas. Setelah keluar dari rumah sakit, aku berharap bisa memainka piano ku setidaknya sekali saja. Tapi mama tidak mengizikanku. Di rumah aku disambut oleh Yans dan Hans serta murid-murid les piano ku. Aku hanya bisa menangis saat Yans memelukku. Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Aku sudah menyerah denga mimpi ku” itulah satu-satu nya hal yang dapat aku fikirkan. Pianist yang tidak bisa bermain piano, pantaskah aku disebut pianist?.

Aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan pindah ke Bandung. Tinggal di villa keluarga. Tempat ku dan kakek pertama kali bermain piano.

**

            Hari ini adalah hari pertama ku tinggal di Bandung. Sudah 3 bulan sejak aku tinggal disini. Yans dan Hans mereka tidak pernah menghubungiku. Sebenarnya mereka tidak setuju dengan keputusan ku untuk berhenti kuliah dan pindah ke Bandung. Bahkan aku dan Hans betengkar hebat sebelum aku pindah kesini. Yans pun kelihatan kecewa dengan keputusan ku. Sedangkan mama dan papa, mereka hanya berusaha membuat ku bahagia, aku tahu mereka kecewa tapi mereka tidak menunjukkannya.

            Sore yang cerah hari ini, angin sejuk dengan matahari yang sama sekali tidak menyengat. Membuat ku sejenak lupa dengan tragedi yang menimpaku. Tiba-tiba alunan lagu Noturne , Op 9 terdengar di telingaku. Lagu yang terakhir kali kudengarkan kini terdengar lagi di telingaku. Aku penasaran, aku mencari tahu asal suara itu. Seorang gadis di bawah pohon, ada yang aneh, dia bermain Biola. Bukan bermain biolanya yang aneh. Tidak ada yang aneh, selain salah satu dari tangan nya terlihat seperti bekas amputasi. Aku cukup terkejut. Bagaimana mungkin bisa seperti itu. Dia menghentikan permainannya. Terlihat seperti kami sama-sama tidak mengira kehadiran satu sama lain. Dia lari.

            Keesokan hari nya dijam yang sama aku menunggu alunan musik dari gadis itu. Kata Mbak Sari yang bekerja di villa namanya adalah Gisa, dia dulunya seorang pemain biola terkenal di Bandung. Tapi sejak dia kecelakaan kabar nya tidak terdengar lagi. Mbak Sari bilang dia sering dengar suara biola di sore hari. Dia tahu kalau itu Gisa, tapi mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.

            Fur Elise musik yang sangat mainstream terdengar ditelinga ku. Aku mencari nya, dan ya.., ada Gisa di situ. Aku menuju ke arah dia, tenyata disana ramai anak-anak desa yang mendengar dia bermain. Entah kenapa, aku menangis. Aku ingat saat aku diposisi nya, aku begitu menikmati ingatan sedih ku sampai aku tidak sadar Gisa sudah selesai memainkan lagu nya. Dia menepuk bahu ku.”Ada apa?” ,tanyanya. ”Gapapa” jawabku.

            Gisa menemaniku kembali ke Villa, diperjalanan aku dan dia hanya diam. Saat sudah sampai aku meminta izin nya untuk ikut menyaksikan penampilan nya di esok hari. Gisa hanya tersenyum, aku menganggap nya sebagai jawaban yang positif. Aku datang kepertunjukan kecil nya. Disana aku menikmati permainan nya. Aku mengagumi semangat nya tetap bermain walaupun dengan tangan nya yang kurang sempurna.

            Setelah permainan nya selesai, aku memberani kan diri untuk bertanya kepadanya.

“Kamu, apakah benar kamu adalah seorang violinist?”,tanyaku membuka percakapan.

“Yap , itu dulu sebelum negara api menyerang”, dia menjawab sambil tertawa.

“Kenapa berhenti?”.

“Aku tidak pernah berhenti, kamu buta? Aku tadi sudah melakukan pertunjukan luar biasa didepan anak-anak itu”.

“Kenapa?”.

“Kenapa , kenapa mulu dari tadi mbak”.

“Aku dulu nya musisi juga, aku pianist” bukaku bercerita.

“Kamu berhenti karena keadaan mu?”.

“Kondisi tangan ku sangat serius, jika aku mencoba bermain, aku bisa saja lumpuh”.

“Belum dicoba ya belum tau, aku dulu juga seperti itu, dunia ku sangat hancur, runtuh, gimana ngga, saat bangun tangan ku tinggal 1 ½  bagian lagi. Dokter bilang tidak ada harapan untuk tangan ku untuk dapat diselamatkan, aku juga harus mengucapkan selamat tinggal kepada biola yang sangat kusukai”. Mata nya mulai merah, dia menahan tangisnya.

“Terus? Apa alasan kamu terus memainkan biola saat kondisi mu seperti ini?”.

Simple karena aku menyukai nya, seperti biola udah bagian dari aliran darah ku. Aku hanya tidak bisa berhenti memainkannya. ”Kamu pasti bisa melanjutkan mimpi mu”. Itu kata-kata bunda ku sebelum meninggal” jelas nya.

            Saat mendengar cerita Gisa pikiran ku berkecamuk. Aku hanya ingin memainkan nya sekali lagi, walaupun untuk yang terakhir, apa salah nya. Aku hanya ingin hidup tanpa penyesalan. Aku ingin sekali saja untuk mencoba meraih mimpi ku lagi. Seperti menantang maut aku mendaftar kan diri di Music and Art Expo yang diadakan kampus ku setiap tahunnya. Salah satu dari sekian banyak keinginan di bucket list ku.

            Yans menelfon ku. Mungkin dia menjadi panitia melihat nama ku terdaftar. Dia memarahi ku, dia melarangku. Begitu juga mama dan papa ku. Tapi tidak dengan Hans,walaupun aku mungkin sudah kasar kepadanya, dia mendukung mimpiku. Dia bilang “Kalau sudah menyerah dengan mimpi mu yang satu , gimana kamu bisa mewujudkan mimpi mu yang lain”.

            Aku pulang ke Pekanbaru, aku mau berlatih di rumah. Awal nya memang berat. Setiap kali tremor aku selalu kesakitan menahan kram di tangan ku, seperti tangan ku yang kaku mencoba untuk menggerogoti semangat ku. Aku tidak menyerah, walaupun ending yang ku terima tidak bagus, aku harus mencoba.

*

            Hari ini tibalah hari H. Aku akan menyiarkan mimpi kecil ku untuk menyinari mimpi ku yang lain. Tiba saat nya giliran ku Noturne, Op 9, lagu yang ku pilih. Aku menganggap lagu ini adalah alasan ku ingin tetap melanjutkan mimpi ku. Tangan ku mulai menekan tuts piano dihadapan ku. Perlahan ku alunkan lagu indah ini. Di kursi penonton kulihat mama dan papa menangis. Yans dan Hans berdiri disudut panggung melihat ku dengan tatapan sedih tapi dengan bibir yang tersimpul senyuman.

            Aku menikmati permainan ku sendiri. Tanpa ku sadari ternyata tremor di tangan ku mulai menyerangku. Tiba-tiba aku merasakan sakit yang sangat sakit sampai aku sendiri tidak bisa menahan tangis ku saat mencoba menahan rasa sakit ku sendiri. Tapi aku tidak mengehentikan permainan ku. Aku anggap ini adalah rangkaian kejadian yang harus aku lalui untuk mewujudkan mimpi. Tuts terakhir di lagu ini sudah berhasil ku tekan dengan tempo dan harmoni yang benar. Aku  mendengar suara tepuk tangan penonton.

            Aku turun dari turun dari panggung, dan tiba-tiba semua gelap.Saat aku sadar, hanya tangis mama yang dapat ku dengar. Dokter memberitahuku berita yang membuat aku tak kuasa menahan derai-an air mataku. Tangan sudah tidak bisa digunakan untuk memainkan piano yang kusukai sesuka hati ku lagi. Aku hanya bisa memainkan lagu dengan tempo pelan. Atau lagu yang tidak membuat tangan ku kaku saat tremor menyerangku.

            Walaupun aku sedih, aku menangis seolah-olah dunis ini sudah hancur. Tapi aku senang dapat memainkan piano yang kusukai lagi. Setidak nya aku tidak akan terkubur bersama mimpi ku di tanah. Tidak akan ada mimpi sebelum kita mencoba. Jika aku tidak melawan kehendak dunia untuk mewujudkan dunia ku. Mungkin sampai akhir hidupku hanya akan ada penyesalan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *