Menjelang 17 September, HIMASKA Adakan Convergent Study Pertama

Pekanbaru (17/09/2019) - HIMASKA FMIPA UNRI melalui Divisi Advokasi telah mengadakan Convergent Study (COS) pada Jumat sore (13/09) lalu. Mengusung tema "Asap Semakin Tebal, Mahasiswa Harus Apa?". Kegiatan tersebut menghadirkan Hafidz Wandrifo Indrikh selaku Menteri Lingkungan Hidup BEM UNRI Periode 2019/2020 sebagai pemateri. Convergent Study dihadiri oleh pengurus HIMASKA dan mahasiswa baru jurusan matematika.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji isu hangat yang terjadi saat ini dan menentukan pernyataan sikap terhadap isu tersebut. Serta memberikan pembelajaran pertama kepada mahasiswa baru mengenai keadvokasian di HIMASKA.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi karena orang-orang ingin mengosongkan lahan dengan cepat, tanpa harus menunggu waktu yang lama. Dilansir dari Kompas.com, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan data terbaru hingga Minggu sore pukul 16.00 WIB. Di seluruh Indonesia, ada 2.862 titik panas. Untuk wilayah Kalimantan Tengah memiliki titik api terbanyak, yakni 954 titik. Kemudian, disusul Kalimantan Barat 527 titik api, Sumatera Selatan 366 titik api, Jambi 222 titik api, Kalimantan Selatan 119 titik api, dan Riau 59 titik api.

Sementara itu, arah sebaran asap di Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, menyebar ke arah Barat Laut. Hal ini tentu saja sangat mengganggu aktivitas warga di luar rumah. Bukan hanya di dalam negara, namun juga di luar.

Dalam menyampaikan materi, Hafidz mengatakan bahwa setiap tahun politik, seperti sebelumnya tahun 2015, selalu terjadi permasalahan yang sama yaitu kabut asap ini. Hal inilah yang juga menjadi pertanyaan bagi kita semua.

"Sebagai mahasiswa, kita tidak hanya dituntut untuk aksi namun juga ikut turun ke lapangan tapi harus dilakukan pengecekan kesehatan terlebih dahulu," kata Hafidz.

Saat ini, UNRI sudah membentuk Satuan Tugas Bencana Asap atau Satgas BA yang bertujuan untuk memberdayakan pendidikan pekerjaan dalam pembakaran hutan dan lahan yang terjadi di Riau.

"Mengapa hanya lahan-lahan masyarakat yang terbakar saja yang dieskpos di media? Sedangkan lahan-lahan perusahaan, media tidak menampilkannya," ujar Hafidz.

Hafidz sampaikan bahwa masyarakat juga bisa menuntut pemerintah, jika pemerintah tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, seperti penuntasan karhutla ini. Begitu juga dengan tujuan Gerakan 17 September (G17S) nantinya ialah terfokus pada karhutla bukan asapnya. "Menuntut pemerintah untuk menuntaskan dalang di balik karhutla saat ini," ujar Hafidz.

Di akhir kegiatan, Zidef Rizky selaku Ketua Divisi Advokasi meminta kepada mahasiswa jurusan matematika untuk bisa menentukan sikap terhadap karhutla ini untuk dapat disampaikan saat G17S nantinya. "Kotorkan almamatermu untuk pertama kali dengan keringat-keringat di jalanan," tambah Zidef.

Agenda ditutup dengan diskusi. Diakhiri dengan penyerahan plakat dan foto bersama.(ZFM)

*
HIMASKA?
Selalu Solid untuk Matematika Jaya!
*

-CONGRUENT GENERATION-

Bupati HIMASKA_Kaharuddin HSN. DM
Wakil Bupati HIMASKA_Sandi Purwanto

#HIMASKAFMIPAUNRI

#CONGRUENTGENERATION

#PressRelease

Line: @asr3905b
Instagram: @himaska_unri
Twitter: @himaska_unri
Facebook & Youtube: HIMASKA FMIPA UNRI
Website : himaskaur.org

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *