Seruan aksi sengketa lahan UNRI #UNRIMENDERITAPEMPROVKEMANA?

•HIMASKA NEWS•ㅤㅤㅤ

Pekanbaru(16/09/2018)—Tagar #UNRIMENDERITAPEMPROVKEMANA? melalui broadcast message membanjiri notifikasi whatsapp dan instagram mahasiswa Universitas Riau pada Rabu Malam (12/09/2018). Seruan aksi tersebut didasari atas kasus sengketa lahan seluas 176.030M2 oleh PT. Hasrat Tata Jaya, dimana fasilitas yang terkena sengketa dibangun berdasarkan Uang Kuliah Tunggal Mahasiswa UNRI.

ㅤㅤ

Dipimpin oleh Saudara Randi Andiyana selaku Presiden Mahasiswa, aksi dilakukan pada hari Kamis (13/09/2018) dengan titik kumpul di fakultas masing masing. Massa mengenakan almamater biru langit Universitas Riau untuk berdemonstrasi di depan kantor Gubernur Provinsi Riau. Perjalanan dimulai dari kampus UNRI Panam, dan sebelum menuju ke kantor gubernur, massa terlebih dahulu ke gedung rektorat UNRI untuk menyampaikan aspirasi kepada PLT Rektor yang baru saja ditunjuk oleh kemristedikti, Bapak Dr. Ir. Agus Indarjo, M.Phill.

ㅤㅤ

Didepan PLT Rektor UNRI dan para petinggi pejabat rektorat yang berjejer di lobi gedung, Saudara Randi menyampaikan tuntutan mahasiswa diatas ‘mimbar’ mobil bak terbuka.

“Kami berharap, PLT mampu berkomitmen dengan mahasiswa untuk menyelesaikan permasalahan ini, diantaranya terkait kasus pemilihan rektor yang tak kunjung usai, 13 tahun lamanya kasus sengketa lahan yang belum rampung, dan penindaklanjutan atas kampus UNRI yang dicap sebagai kampus radikal”, ujar Saudara Randi. Massa melanjutkan perjalanan setelah menyampaikan tuntutan di gedung rektorat UNRI. Dengan dikawal oleh kepolisian, massa langsung menuju ke kantor gubernur. Tetapi, Saudara Randi Andiyana beserta pimpinan kelembagaan UNRI yang berada di atas mobil pickup terlebih dahulu menjemput rombongan massa yang berada di kampus UNRI Gobah. Setelah ribuan massa terkumpul di Kantor Gubernur Provinsi Riau.

ㅤㅤ

Pintu gerbang kantor masih dalam keadaan tertutup, walaupun didalamnya terdapat aparat satpol PP yang bersiaga jika ada mahasiswa menerobos masuk. Dan akan dibuka dengan memberi waktu tenggang selama 5 menit kepada mahasiswa. Waktu tenggang yang diberikan habis, tetapi pintu tak kunjung dibuka oleh aparat. Mahasiswa bersama sama meneriakkan agar pintu dibuka, tetapi tak berhasil juga. Alhasil, massa memanjat pagar dan mendobrak pintu kecil disamping pintu gerbang utama. Pintu kecil itu pun berhasil didobrak, dan terlepas, sehingga beberapa mahasiswa berhasil masuk ke area kantor gubernur. Namun, 2 orang mahasiswa yang berhasil masuk, seketika mendapat pemukulan dari oknum satpol PP, dan diusir kembali dari pintu tersebut.

Tak terima, mahasiswa akhirnya berhasil membuka pintu utama, dan bergegas masuk ke dalam area kantor. Didalamnya sudah ada oknum satpol PP dan kepolisan yang berjaga di sekitaran kantor.

Dipimpin oleh Gubernur Mahasiswa Fakultas Hukum, Saudara David, massa dibariskan didepan kantor, menghadap ke balkon gedung yang berisi jajaran kepolisan dan pejabat kantor gubernur provinsi Riau. Sebelum penyampaian tuntutan, Wakil Gubernur FISIP membacakan puisi oleh Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul ‘Jembatan’, dilanjutkan dengan orasi oleh Gubernur Mahasiswa FMIPA, FT, FAPERTA, dan Ketua DPM Universitas Riau. Ditengah acara, dengan pengawalan dari aparat kepolisian, hadir wakapolresta pekanbaru, Bapak AKBP Edy Sumardi Priadinata, S.IK dan asisten pemerintahan  kesejahteraan rakyat Provinsi Riau,  Bapak H. Ahmad Syah Harrofie, S,H yang langsung menaiki ‘mimbar’ orasi diatas mobil pickup tersebut.

ㅤㅤ

“Hari ini kita akan mendengar jawaban dari PEMPROV Riau yang sama sekali tidak pernah membuka data-data dan fakta hukum yang selama itu terproses di pengadilan kasasi, bahkan saat diputuskan di MA. Kami baru mengetahui , pak , atas nama DPM dan BEM diundang hadir, kami diberikan satu berkas yang isinya ketetapan pengadilan bahwa tanah yang bersengketa tersebut dimenangkan oleh PT HTJ. Sehingga uang kuliah kami digunakan untuk modal pembangunan gedung bersengketa tersebut, kemanakah?. Kemana lagi kami harus mengadu pak? Maka dengan hormat kami meminta kepada pemerintahan yang hadir hari ini yang memegang amanah masyarakat untuk segera memberi solusi atas kasus ini” ujar Saudara Randi.

Menanggapi ujaran yang disampaikan Saudara  Randy, Bapak H. Ahmad Syah Harrofie, S.H. selaku asisten pemerintahan dan Kesra Riau sampaikan “Saya disini mewakili bapak gubernur dan sekda yang tidak bisa hadir bersama kita saat ini. Adik-adik sekalian, apa yang sedang dihadapi oleh adik dikampus, itulah sesungguhnya yang dihadapi oleh pemerintah Provinsi Riau selama 13 tahun ini. Saya ingin menjelaskan bahwa tanah negara ini mempunyai hak serifikat, sementara ada pihak yang menggugat tidak memiliki hak sertifikat, tetapi memiliki surat keterangan ganti rugi. Pendek cerita, itu bergulir ke pengadilan negeri, kita kalah. Di Mahkamah Agung tingkat Kasasi kita kalah”, ujarnya.

Mendengar respon tersebut, Saudara Randy menilai Bapak H. Ahmad kurang memahami tuntutan mahasiswa yang tertuang dalam “Surat Cinta Mahasiswa Universitas Riau” kepada tim sengketa lahan UNRI.

ㅤㅤ

Berikut isi tuntutannya:

ㅤㅤ

1. Mengecam tindakan premanisme dari PT Hasrat Tata Jaya dalam tindakan penguasaan lahan sengketa dengan turut membawa orang tak dikenal dalam rombongannya

2. Bahwa dalam proses penyelesaian lahan sengketa ini kami menilai pemerintah Provinsi Riau dan UNRI tidak melakukan upaya maksimal dalam memperjuangkan dan menyelesaikan permasalahan sengketa laha di Universitas Riau

3. Menuntut Pemerintah Provinsi Riau dan UNRI untuk segera melakukakn langkah cepat dengan ketentuan hukum yang berlaku demi kemaslahatan UNRI dan masyarakat UNRI

4. Meminta untuk pemerintah provinsi riau, DPRD Riau, UNRI, dan PT HTJ beserta pihak yang terkait untuk membuat suatu forum membedah kasus ini secara terbuka dan transparan bersama dengan mahasiswa Universitas Riau

5. Meminta untuk diusut tuntas terkait sarana prasarana yang dibangun diatas lahan bersengketa.

ㅤㅤ

Wakapolresta Pekanbaru turut memberikan respon atas tuntutan mahasiswa UNRI, terutama tuntutan pertanggungjawaban atas perlakuan oknum satpol PP kepada dua orang mahasiswa UNRI. “Polisi adalah pelayan, pengayom, dan pelindung adik-adik. Perkara kasus pemukulan, jangan main hakim sendiri, kami akan melakukan peninjauan kembali atas kasus itu, dan sesegera mungkin kami akan melakukan penyelidikan dan mengusut tuntas, tentu didukung dengan bukti bukti yang ada”, pungkasnya. Setelah mendengar tuntutan yang disampaikan Saudara Randi sebelumnya, Bapak H. Ahmad kembali sampaikan “Kami sedikitpun tidak keberatan, kami mendapat dukungan moral yang luar biasa oleh mahasiswa Universitas Riau. Oleh karena itu, kami minta presiden atau gubernur mahasiswa untuk menunjuk dan mengutus beberapa orang untuk merumuskan langkah strategis yang bisa kita ambil dalam waktu secepatnya, Nah, terkait oknum satpol PP tadi, kami minta Kasatp PP untuk turut menindaklanjuti agar diproses sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku”, ujarnya.

Hasil negosiasi yang dilakukan Bapak H. Ahmad kepada mahasiswa UNRI ialah, pada Kamis malam (13/09/2018), mahasiswa UNRI sudah menyerahkan daftar nama peserta yang akan ikut forum bersama dengan Gubernur, Sekda, DPRD, dan PT. HTJ. Serta di hari Senin (17/09/2018) akan dilaksanakan diskusi untuk merumuskan solusi terbaik terkait dengan tuntutan mahasiswa UNRI. Sebelum aksi berakhir, atas ungkapan pertanggungjawaban mahasiswa yang telah merobohkan pintu kecil gedung kantor gubernur, mahasiswa berinisiatif untuk mengumpulkan sumbangan “Koin Cinta untuk UNRI” kepada seluruh massa yang tergabung dalam barisan dan hasilnya akan secara langsung diserahkan kepada asisten pemerintahan dan kesejahteraan rakyat provinsi Riau, Bapak H. Ahmad Syah Harrofie, S.H. (WS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *