SIGMA – Jangan Sampai Kolam Susu Jadi Kolam Sampah


Hallo Sobatika!
Selamat bertemu kembali dengan SIGMA di setiap malam minggu, Sobatika. Nah, kali ini kita akan membahas tentang Kolam Sampah! Kira-kira gimana ya? Pasti penasaran kan? Tunggu apalagi, yuk kita kepoin!!

"Bukan lautan, hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai, tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu."

Penggalan lirik lagu Kolam Susu milik grup band Koes Plus ini cukup menggambarkan kekayaan alam Indonesia, terutama kekayaan lautnya. Maklum saja, Indonesia dijuluki negeri maritim. Saking 'maritimnya' ada dua kementerian yang mengurusi bidang ini, Kementerian Kordinator Bidang Kemaritiman dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Kekayaan laut Indonesia pun bisa diadu dengan negara lain. Meskipun berada di posisi kedua negara dengan garis pantai terpanjang di dunia di bawah Kanada, Indonesia berada di peringkat pertama soal keanekaragaman hayati lautnya.

Tanpa disadari, laut Indonesia terancam rusak. Banyak sekali faktornya, mulai dari aktivitas pengeboran minyak lepas pantai, mengubah kawasan hutan bakau menjadi area tambak, industri, atau perumahan, reklamasi, penangkapan ikan secara masif, dan melepas jangkar di area terumbu karang, serta membuang limbah ke laut, tak terkecuali sampah plastik.

Setiap tahun, 5-13 juta ton plastik hanyut di lautan lepas dunia. Indonesia menyumbang 1,29 juta ton tiap tahunnya. Sampah plastik merupakan sampah nonorganik yang sulit untuk diurai oleh alam (bio degaradasi). Menurut DCA, pemakakan sedotan plastik di Indonesia memcapai 63 juta batang per hari. Pemakaian per bulannya sama dengan 5 kali panjang garis pantai Indonesia (503.522 km).

Satu botol plastik yang hanyut di laut saja butuh waktu setidaknya 450 tahun untuk dapat terurai. Itu pun tidak sepenuhnya terurai. Material plastik tersebut tidak hancur melainkan terpecah menjadi partikel yang lebih kecil berukuran 1 nanometer hingga 5 milimeter atau yang biasa disebut mikroplastik.

Ukuran yang sangat kecil tersebut dapat masuk ke tubuh ikan-ikan atau biota laut lainnya dan tentu saja berbahaya bagi mereka. Resikonya mengancam nyawa. Jangankan mikroplastik, sampah plastik seperti botol, kantong plastik, atau bungkus makanan pun sering ditemui di perut hewan laut yang mati.

Maka dari itu, jangan sampai laut Indonesia yang disebut-sebut sebagai 'kolam susu' ini berubah menjadi lautan sampah, lautan limbah, lautan plastik. Jangan sampai ikan-ikan lari dari laut negeri ini, sampai-sampai kita tidak punya lagi ikan di kolam sendiri. Jangan sampai juga pariwisata kelautan Indonesia tidak lagi diminati wisatawan.

Untuk menjaga laut pun bisa dimulai dengan hal kecil. Nah, yuk kurangi pemakaian plastik, Sobatika! Dan juga jangan membuang sampah plastik ke laut. Tiap langkah preventif yang kita lakukan sudah berkontribusi membantu menjaga kolam susu kita bersama.

*
HIMASKA?
Selalu Solid untuk Matematika Jaya!
*

-CONGRUENT GENERATION-

Bupati HIMASKA_Kaharuddin HSN. DM
Wakil Bupati HIMASKA_Sandi Purwanto

#HIMASKAFMIPAUNRI

#CONGRUENTGENERATION

#SIGMAHIMASKA

Line: @asr3905b
Instagram: @himaska_unri
Twitter: @himaska_unri
Facebook & Youtube: HIMASKA FMIPA UNRI
Website : himaskaur.org

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *