SIGMA – Program Pohon Asuh, Lewat Crowdfunding Untuk Selamatkan Hutan

Hallo Sobatika! 👋
Apa kabarnya, Sobatika? Semoga dalam keadaan sehat yah. SIGMA kali ini kita akan membahas tentang Program Pohon Asuh, Lewat Crowdfunding Untuk Selamatkan Hutan. Yuk, Simak Selengkapnya!

Sering kali upaya penyelamatan lingkungan, hutan, dan alam terhambat bahkan terhenti lantaran kemampuan fiskal yang terbatas. Tak urung, -karena alasan itu, kepentingan lingkungan kerap menjadi barang yang dipertaruhkan dalam setiap proses pengambilan keputusan maupun pembuatan kebijakan.

Padahal, di era yang serba maju dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, persoalan pendanaan seharusnya dapat disiati. Ia tak lagi menjadi beban satu pihak saja karena akses mendapatkan pendanaan saat ini terbuka begitu lebar.

Contohnya dengan upaya dunia untuk menyelamatkan hutan dan melawan krisis iklim, banyak negara di dunia sepakat bagi negara-negara yang memiliki hutan yang terjaga dapat mengakses maupun mendapatkan pendanaan dari negara-negara yang minim dengan hutan.

Opsi pendanaan ini dikenal dengan pasar karbon atau perdagangan karbon. Sederhananya, negara yang memiliki hutan penghasil karbon dapat menukarkan hasil karbonnya yang tercatat akurat dengan sejumlah uang yang telah disepakati dalam perdagangan karbon.

Tidak lepas dari persoalan pendanaan, belum lama ini Indonesia berhasil membawa pulang dana yang cukup besar dari Green Climate Fund (GCF). Dana sebesar USD 103,78 juta atau sekitar Rp1,52 triliun diterima karena Indonesia dianggap berhasil mengurangi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan.

Tercatat, laju deforestasi di Indonesia diklaim mengalami penurunan dari periode 2014- 2020 dari level 3,51 juta CO2e ke level 0,40 juta CO2e.  Bukan hanya itu, dana ini juga diberikan sebagai pembayaran atas keberhasilan Indonesia dalam menurunkan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan pada periode tahun 2014-2016 sebesar 20,3 juta CO2e.

Pembuktian Indonesia dalam upaya memerangi krisis iklim tidak hanya terealiasi dari dana internasional GCF, sebelumnya Indonesia telah menerima dana perubahan iklim yang berasal dari pemerintah Norwegia sebesar sebesar Rp840 miliar sebagai hasil kerja penurunan emisi karbon.

Untuk menjawab kebutuhan besar atas pendanaan pemulihan terhadap kerusakan lingkungan, opsi mengumpulkan dana dengan metode crowdfunding dapat menjadi salah satu alternatif terbaik yang dapat diterapkan.

Metode ini adalah sebuah bentuk pendanaan yang dikumpulkan dari banyak pihak secara kolektif untuk digunakan dalam pembiayaan sebuah program maupun kegiatan.

Sederhananya, masyarakat dapat ikut serta dalam sebuah kegiatan dengan cara mendanai kegiatan tersebut, atau lebih singkatnya metode ini tepat digambarkan dengan istilah “patungan”.

Namun, upaya fundraising yang dilakukan organisasi masyarakat sipil dengan sistem crowdfunding selama ini dianggap masih bersifat general. Akibatnya masyarakat sebagai pihak yang mendanai kurang merasa menjadi bagian dari program yang mereka danai.

Namun, beda cerita dengan model crowdfunding. Program Pohon Asuh sendiri adalah program penyelamatan hutan yang dikembangkan untuk menyaring pendanaan dari banyak pihak sebagai motor pembiayaan operasional perlindungan hutan yang dikelola oleh masyarakat.

Konsep pohon asuh ini menitikberatkan pada pembiayaan dari para pengasuh pohon dengan nominal sebesar Rp200.000 untuk satu pohon pertahunnya sebagai dukungan kepada masyarakat penjaga dan pengelola hutan di tempat pohon asuh berada.

Dengan adanya Pohon Asuh, masyarakat secara luas dapat merasa menjadi bagian dari penyelamatan hutan karena ikut mengasuh pohon yang ada di hutan tersebut.

Sedangkan masyarakat yang berperan sebagai pengelola mendapatkan manfaat berupa pendanaan untuk dapat mengelola hutannya sehingga mampu menghasilkan perekonomian yang lebih baik. Crowdfunding ini benar-benar win-win solution.

Saat ini banyak pihak selama ini menganggap bahwa memiliki hutan adalah kutukan. Paradigma ini muncul saat masyarakat tidak melihat hutan sebagai sebuah ekosistem yang penting dan memberi keuntungan bagi jasa lingkungan.

Sekarang, saatnya kita dukung mempopulerkan bisnis model berbasis lingkungan seperti halnya pohon asuh dan banyak bisnis jasa lingkungan lainnya, agar lingkungan kita semakin lestari dan masa depan terselamatkan.
.
Sumber:  mongabay.co.id
.
Gimana nih, Sobatika? Semakin menarik bukan, SIGMA kali ini. Pantengin terus sosial media HIMASKA ya, Sobatika!
Pastikan kamu tidak ketinggalan informasi yang menarik, akurat, dan menambah wawasan.
.
HIMASKA?
Selalu Solid untuk Matematika Jaya!
.
—PARTITION GENERATION—
.
##HIMASKAFMIPAUNRI
##PARTITIONGENERATION
##SIGMAHIMASKA
.
Bupati HIMASKA : Ridho Dwi Saputra
Wakil Bupati HIMASKA : M. Irvan
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Line: @asr3905b
Instagram: @himaska_unri
Twitter: @himaska_unri
Facebook & Youtube: HIMASKA FMIPA UNRI
Website : himaskaur.org

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *